Tampilkan postingan dengan label HIburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIburan. Tampilkan semua postingan

derita dan kesulitan bagi orang bertauhid




Ibnu Taymiyah rahimahullah mengatakan,

" Diantara sempurnanya nikmat Allah pada para hamba-Nya yang beriman, Dia menurunkan pada mereka kesulitan dan derita. Disebabkan derita ini mereka pun mentauhidkan-Nya (hanya berharap kemudahan pada Allah, pen). Mereka pun banyak berdo’a kepada-Nya dengan berbuat ikhlas. Mereka pun tidak berharap kecuali kepada-Nya.

Di kala sulit tersebut, hati mereka pun selalu bergantung pada-Nya, tidak beralih pada selain-Nya. Akhirnya mereka bertawakkal dan kembali pada-Nya dan merasakan manisnya iman. Mereka pun merasakan begitu nikmatnya iman dan merasa berharganya terlepas dari syirik (karena mereka tidak memohon pada selain Allah). Inilah sebesar-besarnya nikmat atas mereka. Nikmat ini terasa lebih luar biasa dibandingkan dengan nikmat hilangnya sakit, hilangnya rasa takut, hilangnya kekeringan yang menimpa, atau karena datangnya kemudahan atau hilangnya kesulitan dalam kehidupan. Karena nikmat badan dan nikmat dunia lainnya bisa didapati orang kafir dan bisa pula didapati oleh orang mukmin." ( Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 10/333)

Dialogika : Pemuda & Ulama.


Ada seorang pemuda yang telah lama menuntut ilmu di luar negeri, namun selama itu pula ia tidak pernah belajar tentang pengetahuan agama (Tsaqofah Islam). Sekembalinya ke negeri asal, ia pun sering bertemu dan berdiskusi dengan teman serta kenalannya dari berbagai kalangan, baik dari kalangan intelektual – akademis maupun para aktivis. Di tengah perjalanan hidup yang ia jalani, kekosongan pengetahuan mengenai agamapun ia rasakan dan sadari, sehingga memunculkan kegelisahan di dalam hatinya dan membuat ia terus bertanya–tanya dengan pertanyaan yang sama dimana pernah ia tanyakan juga kepada para dosen dan profesor yang mengajar di tempat ia menuntut ilmu selama ini. Di dalam pencariannya yang cukup panjang itu, selama itu pula pertanyaannya tersebut belum terjawab sama sekali, sehingga ia bertekad untuk mencari seseorang yang paham tentang Islam dan bisa menjawab 3 pertanyaan besarnya tersebut. Dalam masa – masa pencariannya, pemuda tersebutpun bertemu dengan seorang Ulama yang kemudian tanpa disengaja merekapun menjalin dialog.

Akhir Perjalanan Sang Perantau


Orang asing bukanlah orang yang merantau ke negeri syam atau yaman
Tapi orang asing adalah, orang yang merantau ke kuburnya bersama kain kafan

Sungguh si perantau punya hak yang harus dipenuhi
Oleh tuan rumah yang daerahnya sedang dilalui
—   —
Janganlah kau hardik orang asing ketika sedang dalam perantauan
Karena masa telah menghardiknya dengan kehinaan dan banyak cobaan

sebuah dialog..........

Tanggal 12 Rabi’ul Awwal


Oleh: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد




Abdullah: “Abdurrahman, kamu hadirkan ntar malam?”


Abdurrahman: “Kemana? Ngapain?”


Abdullah: “Lho kamu nggak dapat undangan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?, penting lho …!ada ceramah ustadznya lagi…banyak faedahnya! Cuma sekali setahun koq, kesempatan emas, susah dicari”.


Abdurrahman: “Saya dapat undangan, tapi saya fikir acara itu tidak boleh dikerjakan”.