Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Sebab Kelemahan Kaum Muslimin (Pelajaran dari Tragedi Palestina)

Oleh : Abu Abdillah Sofyan


Sejatinya kaum Muslimin adalah ummat yang kuat dan mulia serta berwibawa dan disegani oleh orang-orang kafir. Sebagaimana hal ini dengan jelas ditunjukkan dalam sejarah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para Sahabatnya radhiyallahu’anhum serta beberapa generasi ummat Islam setelahnya yang tetap konsisten dalam berpegang teguh dengan Sunnah Beliau shallallahu’alaihi wa sallam. Bahkan sebulan sebelum Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan pasukannya sampai di tempat musuh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan dalam hati musuh rasa takut dan gentar terhadap kaum Muslimin. Dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: 

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ
“…Aku ditolong (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan kegentaran pada musuh dari jarak sebulan perjalanan..” (Muttafaqun’alaihi). 



Pemimpin, Cerminan dari Rakyatnya



Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.


Kadang kita sebagai rakyat jelata selalu menyalahkan Si Presiden. Pemimpin jadi tumpahan kesalahan atas kerusakan yang di mana-mana terjadi. Pemimpin yang jadi biang kesalahan atas korupsi di berbagai jajaran. Semua gara-gara Si Presiden. Kenapa setiap orang tidak mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan penguasa.
Yang patut dipahami, pemimpin adalah sebenarnya cerminan dari rakyatnya.


Mengeluh Kepada Manusia

Seorang yang jahil akan mengadukan Allah kepada manusia! (praktek nyatanya adalah tindakan kita yang terkadang mengeluhkan musibah yang menerpa, kita tidak bersabar atas hal tersebut dan justru mengeluhkan musibah itu kepada orang lain.) Hal ini merupakan puncak kebodohan, karena apabila dia mengenal Rabb-nya, tentu dia tidak akan mengeluhkan-Nya dan jika dia mengenal hakikat manusia, tentu dia tidak akan mengadu kepada mereka.

Salah seorang ulama salaf pernah melihat pria yang mengadu kepada temannya perihal kesulitan hidup yang dialaminya.
Maka ulama tadi berkata, “Duhai, demi Allah, anda tidak akan menemukan solusi apabila anda mengeluhkan Zat yang merahmatimu (sayang kepadamu) kepada seorang yang tidak menyayangimu.”

Oleh karena itu, salah seorang penyair bersenandung,

وإذا أتتك مصيبة فاصبر لها … صبر الكريم فإنه بك أرحم

وإذا شكوت إلى ابن آدم إنما … تشكو الرحيم إلى الذي لا يرحم

“Apabila anda tertimpa musibah, maka bersabarlah dengan baik, sesungguhnya Dia sangat sayang kepadamu.

Orang Mukmin Tidak Pernah Stress!


Penulis : Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, Lc.

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman,
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)

Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata,
“Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)

Dampak Buruk Berdusta

Hindarilah berdusta, karena dusta dapat merusak persepsimu terhadap maklumat yang sebenarnya. Dan dapat merusak penyampaian dan pengajarannya kepada manusia. Orang yang berdusta menggambarkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Menggambarkan sesuatu yang hak menjadi batil dan menggambarkan sesuatu yang batil menjadi hak. Menggambarkan sesuatu yang baik menjadi buruk dan menggambarkan sesuatu yang buruk menjadi baik. Sehingga rusaklah persepsi dan ilmunya sebagai hukuman atas dirinya. Kemudian ia menggambarkannya kepada lawan bicaranya yang terpedaya dengan kata-katanya dan terpikat dengannya, sehingga merusak juga persepsi dan ilmunya.

Akhir Perjalanan Sang Perantau


Orang asing bukanlah orang yang merantau ke negeri syam atau yaman
Tapi orang asing adalah, orang yang merantau ke kuburnya bersama kain kafan

Sungguh si perantau punya hak yang harus dipenuhi
Oleh tuan rumah yang daerahnya sedang dilalui
—   —
Janganlah kau hardik orang asing ketika sedang dalam perantauan
Karena masa telah menghardiknya dengan kehinaan dan banyak cobaan

Kutitip surat ini untukmu

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya.
Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…