Tampilkan postingan dengan label tentang hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang hati. Tampilkan semua postingan

cenderung cinta padanya


Dalam sebuah atsar disebutkan,
جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها
Tabiat hati adalah cenderung mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jelek padanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 2985, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 4: 131, Al Jami’ Ash Shogir 3580. As Suyuthi mengatakan hadits ini dho’if). Walaupun hadits ini dho’if, namun maknanya tepat dan benar.
Cintailah Karena Allah
Kecintaan seseorang pada orang yang suka berbuat baik padanya, itu memang boleh. Namun hendaklah kecintaan tersebut dibangun di atas kecintaan karena Allah. Artinya, standar kecintaan pada saudaranya seimbang dengan ketaatan saudaranya pada Allah. Jika saudaranya termasuk kalangan orang sholeh dan bertakwa, ia akan semakin cinta. Sebaliknya, cintanya akan semakin berkurang pada yang suka berbuat maksiat dan durhaka. Inilah maksud kecintaan karena Allah. Berarti kecintaan seseorang yang mencintai karena Allah akan berbeda pada pecandu rokok dan pada pemuda yang lisannya tidak pernah lepas dari dzikir. Kecintaan karena Allah itulah yang menuai kelezatan dan manisnya iman.

cinta sejati itu...


Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman kezaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya, apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi....


Fitnah Terdahsyat Itu Bernama Wanita

Penulis : Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, Lc Hafidzahullah

" Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang gandrungi manusia berupa syahwat terhadap wanita, anak-anak,tumpukan-tumpukan emas dan perak, kuda-kuda yang mahal, binatang ternak dan sawah ladang, itu semua hakikatnya hanyalah kenikmatan hidup di dunia, dan di sisi Allah ada tempat kembali yang terbaik." QS: Al-Imran: 14.
Diantara semua bentuk kenikmatan dunia yang digandrungi manusia, Allah subhanahu wa ta’ala menempatkan wanita pada posisi pertama dari segala bentuk kenikmatan lainnya. Hal ini tentunya bukan tanpa makna, tetapi karena memang diantara segala keindahan dunia ini wanita yang paling menggoda. Karena itulah Imam Alqurtubi menyebutkan dalam tafsirnya: ” Allah memulai (menyebutkan) kenikmatan dengan wanita karena betapa condongnya jiwa terhadap mereka....”


derita dan kesulitan bagi orang bertauhid




Ibnu Taymiyah rahimahullah mengatakan,

" Diantara sempurnanya nikmat Allah pada para hamba-Nya yang beriman, Dia menurunkan pada mereka kesulitan dan derita. Disebabkan derita ini mereka pun mentauhidkan-Nya (hanya berharap kemudahan pada Allah, pen). Mereka pun banyak berdo’a kepada-Nya dengan berbuat ikhlas. Mereka pun tidak berharap kecuali kepada-Nya.

Di kala sulit tersebut, hati mereka pun selalu bergantung pada-Nya, tidak beralih pada selain-Nya. Akhirnya mereka bertawakkal dan kembali pada-Nya dan merasakan manisnya iman. Mereka pun merasakan begitu nikmatnya iman dan merasa berharganya terlepas dari syirik (karena mereka tidak memohon pada selain Allah). Inilah sebesar-besarnya nikmat atas mereka. Nikmat ini terasa lebih luar biasa dibandingkan dengan nikmat hilangnya sakit, hilangnya rasa takut, hilangnya kekeringan yang menimpa, atau karena datangnya kemudahan atau hilangnya kesulitan dalam kehidupan. Karena nikmat badan dan nikmat dunia lainnya bisa didapati orang kafir dan bisa pula didapati oleh orang mukmin." ( Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 10/333)

Mengeluh Kepada Manusia

Seorang yang jahil akan mengadukan Allah kepada manusia! (praktek nyatanya adalah tindakan kita yang terkadang mengeluhkan musibah yang menerpa, kita tidak bersabar atas hal tersebut dan justru mengeluhkan musibah itu kepada orang lain.) Hal ini merupakan puncak kebodohan, karena apabila dia mengenal Rabb-nya, tentu dia tidak akan mengeluhkan-Nya dan jika dia mengenal hakikat manusia, tentu dia tidak akan mengadu kepada mereka.

Salah seorang ulama salaf pernah melihat pria yang mengadu kepada temannya perihal kesulitan hidup yang dialaminya.
Maka ulama tadi berkata, “Duhai, demi Allah, anda tidak akan menemukan solusi apabila anda mengeluhkan Zat yang merahmatimu (sayang kepadamu) kepada seorang yang tidak menyayangimu.”

Oleh karena itu, salah seorang penyair bersenandung,

وإذا أتتك مصيبة فاصبر لها … صبر الكريم فإنه بك أرحم

وإذا شكوت إلى ابن آدم إنما … تشكو الرحيم إلى الذي لا يرحم

“Apabila anda tertimpa musibah, maka bersabarlah dengan baik, sesungguhnya Dia sangat sayang kepadamu.

Orang Mukmin Tidak Pernah Stress!


Penulis : Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, Lc.

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.

Allah Ta’ala berfirman,
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)

Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata,
“Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)

Dampak Buruk Berdusta

Hindarilah berdusta, karena dusta dapat merusak persepsimu terhadap maklumat yang sebenarnya. Dan dapat merusak penyampaian dan pengajarannya kepada manusia. Orang yang berdusta menggambarkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada dan sesuatu yang ada menjadi tidak ada. Menggambarkan sesuatu yang hak menjadi batil dan menggambarkan sesuatu yang batil menjadi hak. Menggambarkan sesuatu yang baik menjadi buruk dan menggambarkan sesuatu yang buruk menjadi baik. Sehingga rusaklah persepsi dan ilmunya sebagai hukuman atas dirinya. Kemudian ia menggambarkannya kepada lawan bicaranya yang terpedaya dengan kata-katanya dan terpikat dengannya, sehingga merusak juga persepsi dan ilmunya.

Bila Cinta Menyapa

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

‘Cinta bikin orang gila’, begitu kata sebagian orang. Barangkali ada benarnya. Buktinya, banyak kita saksikan para pemuda atau pemudi yang rela melanggar aturan-aturan agama demi mencari keridhaan pacarnya. Alasan mereka, ‘cinta itu membutuhkan pengorbanan’. Kalau berkorban harta atau bahkan nyawa untuk membela agama Allah, tentu tidak kita ingkari. Namun, bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat Islam dan yang dicari bukan keridhaan Ar-Rahman? Semoga tulisan yang ringkas ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita bersama, agar cinta yang mengalir di peredaran darah kita tidak berubah menjadi bencana.

Arti Sebuah Cinta 2

Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)

“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)

Adapun dalil dari hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hadits Anas yang telah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”

ARTI SEBUAH CINTA

Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yg paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.